Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lakukan intensifikasi surveylans kualitas berbasiskan resiko, sample, dan pengetesan untuk pastikan semua produk yang tersebar di pasar tidak memiliki kandungan cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) melewati tingkat batasan aman. Hasilnya, ada 13 sirup obat (21 bets) dipastikan aman. "Berdasar hasil pengetesan s/d 23 Oktober 2022, ada 13 sirup obat (21 bets) dengan hasil dipastikan aman dipakai sejauh sama sesuai ketentuan gunakan," begitu pengakuan BPOM dalam launching yang Kompas.com terima, Senin (24/10/2022). Daftar obat ini di luar dari daftar obat yang disampaikan Kemenkes untuk ditelaah. Untuk dipahami, dari 102 obat yang disampaikan Kemenkes, 30 dipastikan aman dipakai.
Agar semakin terang, berikut urutan lengkap 13 obat sirup yang aman dipakai sejauh sama sesuai ketentuan gunakan.
1. Bodrexin Flu dan Batuk PE Sirup
Nomor ijin beredar: DTL1422723337A2
Nomor Bets: 090112, 080892, 101042
Pemilik Ijin Beredar: Tempo Scan Pacific
2. Calorex Sirup
Nomor ijin beredar: DTL7813020337A1
Nomor Bets: APR22A01
Pemilik Ijin Beredar: Konimex
3. Fasidol Drops
Nomor ijin beredar: DBL0309213936A1
Nomor Bets: 20130
Pemilik Ijin Beredar: Ifars Pharmaceutical
4. Fermol Sirup
Nomor ijin beredar: DBL2044401337A1
Nomor Bets: H20326N
Pemilik Ijin Beredar: Kimia Farma
5. Fortusin Sirup
Nomor ijin beredar: DTL0233402837A1
Nomor Bets: LNY 53
Pemilik Ijin Beredar: Solas Abadi Sejahtera
6. Promedryl Sirup (Rasa Jeruk)
Nomor ijin beredar: DTL1933215837A1
Nomor Bets: 19522F0010
Pemilik Ijin Beredar: Promedrahardjo Farmasi Industri
7. Siladex Antitusive Sirup 30 mL, 60 mL, 100 mL
Nomor ijin beredar: DTL1613025737A1
Nomor Bets: AUG22A01 (30 mL), AUG22A10 (60 mL), SEP22A03 (100 mL)
Pemilik Ijin Beredar: Konimex
8. Siladex Cough dan Cold Sirup
Nomor ijin beredar: DTL8713002537A1
Nomor Bets: AUG22A11
Pemilik Ijin Beredar: Konimex
9. Siladex DMP Sirup 30 ml, 60 ml, 100 mL
Nomor ijin beredar: DTL1613025637A1
Nomor Bets: MAR22A01 (30 mL), AUG22A02 (60 mL), JUL22A04 (100 mL)
Pemilik Ijin Beredar: Konimex
10. Termorex Baby Drops Rasa Jeruk
Nomor ijin beredar: DBL9513010436A1
Nomor Bets: JUL22A01
Pemilik Ijin Beredar: Konimex
11. Termorex Plus Sirup Rasa Jeruk 30 mL, 60 mL
Nomor ijin beredar: DTL0113019737A1
Nomor Bets: JUL22A02 (30 mL), JUL22A11 (60 mL)
Pemilik Ijin Beredar: Konimex
12. Termorex
Nomor ijin beredar: DBL7813003537A1
Nomor Bets: SEP22104
Pemilik Ijin Beredar: Konimex
13. Praxion Suspensi
Nomor ijin beredar: DBL0521631433A1
Nomor Bets: D2H747C, D2I103D
Pemilik Ijin Beredar: Pharos Indonesia
Keinginan tes dari Kemenkes Dalam launching yang serupa, BPOM keluarkan data hasil tes atas 102 obat yang disuruhkan Kemenkes. Sudah diketahui, 102 tipe obat ini sebagai obat yang dipakai pasien tidak berhasil ginjal kronis. Dari 102 itu, sekitar 30 obat dipastikan aman dan 3 produk yang lain memiliki kandungan cemaran EG/DEG melewati tingkat batasan aman. Ke-3 produk ini terhitung dalam 5 produk yang sudah dipublikasikan BPOM tanggal 20 Oktober 2022.
Dalam pada itu, ada 133 sirup obat yang dipastikan juga tidak memakai propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan/atau gliserin/gliserol hingga aman sejauh dipakai sama sesuai ketentuan gunakan. Ini berdasar pencarian BPOM pada data register pada semua produk obat wujud sirup dan drops.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) umumkan 30 obat sirup atau cair yang dimakan pasien tidak berhasil ginjal kronis pada anak di Indonesia ditegaskan tidak memiliki kandungan etilen glikol (EG) atau cemaran lain dan aman dimakan, Minggu (23/10/2022). Informasi itu memberi respon laporan Kementerian Kesehatan yang memberikan laporan sekitar 102 merk obat sirup sudah dimakan 159 pasien tidak berhasil ginjal kronis pada anak di Indonesia, Jumat (21/10/2022). Untuk dipahami, penyidikan pemerintahan peluang pemicu tidak berhasil ginjal kronis pada anak atau masalah ginjal kronis progresif atipikal di Indonesia satu diantaranya ke arah pada konsumsi obat sirup yang terkontaminasi etilen glikol (EG) atau dietilen glikol (DEG) di atas tingkat batasan aman. Cemaran itu berasal berbahan pelarut sirup seperti propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, gliserin, atau gliserol.
Dikutip dari Di antara, obat yang dipublikasikan Kemenkes itu salah satunya Afibramol, Alerfed Syrup, Ambroxol syr, Amoksisilin, Amoxan, Amoxicilin, Anacetine syrup, Anacetine DOEN, Apialys Syrup, Azithromycin Syrup, Baby cough Camivita, Caviplex, Cazeti, Cefacef Syrup, Cefspan Syrup, dan Cetirizin. Ada pula Colfin Syrup, Cupanol Syrup, Curbexon Syrup, Curviplex Syrup, Depakene, Devosix turun 15 ml, Dextaco Syrup, Domperidon Syrup, Disudrin-ped, Elkana Syrup, Eritromisin, Etamox Syrup, Fartolin Syrup, Ferro K, Hecosan, Hufabetamin, Hufagrip, Hufamag Plus Syrup, dan Ibuprofen. Disamping itu, Ifarsyl Plus, Imunped Turun, Interzinc, Itamol Syrup, Klinik Tazkia: Paracetamol Syrup, Metronidazole Syrup, Mucos Turun, Novachlor Syrup, Nytex, OBH Saya Konidin, Omedom Syrup, Omemox, Pacdin Cough Syrup, Pamol, Paracetamol Turun dan Syrup, Paraflu Syrup, dan Praxion Syrup. Selanjutnya Profilas Syrup, Proris, Proris Hijau, Psidii Syrup, Ranivel Syrup, Rhelafen, Rhinofed, Rhinos Junior Syrup, Rhinos Neo Turun, Rosidon, RSKM: Paracetamol Syrup, Sanmol Syrup, Sanprima, Sucralfate, Tempra, Tremenza Syrup, UNIBEBI Cough Syrup, Unibeby turun, dan Vesperum. Lalu, Vesperum turun 15 ml, Vestein (Erdostein), Vometa, Yusimox, Zenichlor Syrup, Zinc Turun, Zinc Syrup, Zincpro Syrup, Zibramax, Asam Valproat Sirup, Carsida, Hufabethamine, Renalit, Hufallerzine, dan Hufagrip. Obat-obat sirup itu lalu ditelaah BPOM untuk disaksikan kandungan cemaran EG dan DEG apa ada di atas tingkat batasan aman sebesar 0,5 miligram/kg berat badan setiap hari atau mungkin tidak. Berikut hasil interograsi BPOM.
Masyarakat Bisa Konsumsi Kembali Obat Sirop yang BPOM Pastikan Aman
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan apoteker atau tenaga medis di Indonesia bisa kembali jual atau memberi resep obat sediaan cair atau sirop ke warga.
Tetapi, Juru Berbicara Kemenkes Mohammad Syahril mengingati obat yang bisa dimakan warga ialah obat yang sudah memperoleh info aman dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Kemenkes ikuti informasi BPOM jika obat-obat yang aman yakni yang telah dipublikasikan BPOM bisa dipakai kembali," kata Syahril saat dikontak CNNIndonesia.com, Senin (24/10).
Syahril menyebutkan BPOM sudah melaunching 133 produk obat sirop yang tidak memakai propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, sampai gliserin atau gliserol.
Beberapa ratus produk obat sirop itu telah dilaksanakan sample dan pengetesan dan dipastikan aman dipakai sejauh sama sesuai ketentuan gunakan.
Seterusnya, dari daftar 102 obat penemuan Kemenkes yang disebut kisah obat pasien masalah ginjal kronis progresif atipikal di Indonesia, BPOM sudah lakukan beberapa pengetesan.
Hasilnya, dari 102 obat itu, 23 salah satunya tidak memakai propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, sampai gliserin atau gliserol, hingga aman dimakan oleh warga.
Selanjutnya, tujuh produk dipastikan aman berdasar hasil tes. Tetapi tiga yang lain terdeteksi memiliki kandungan cemaran etilen glikol atau dietilen glikol. Ke-3 produk itu yaitu Unibebi Cough Sirop, Unibebi Demam Sirup, dan Unibebi Demam Drops.
BPOM masih tetap berproses lakukan pengetesan pada 69 produk obat sirop yang lain.
"Hingga informasi larangan sementara masih tetap berlaku untuk obat-obat sirup selainnya yang telah dipublikasikan BPOM itu," tutur Syahril.
Terpisah, Eksekutor pekerjaan (Plt) Direktur Servis Kesehatan Referensi Kemenkes Yanti Herman menjelaskan faksinya akan selekasnya melaunching surat selebaran (SE) terkini berkaitan produk obat sirop yang bisa dan aman dimakan warga dan kebalikannya.
"Ini hari Insya Allah akan dikeluarkan surat oleh Plt Direktur Jenderal Servis Kesehatan ya," tutur Yanti.
Kemenkes awalnya sudah memberikan instruksi supaya apotek atau tenaga medis di Indonesia untuk saat ini tidak jual atau memberi resep obat bebas berbentuk cair atau sirop ke warga.
Ketentuan itu tercantum pada Surat Selebaran (SE) Nomor SR.01.05/III/3461/2022 mengenai Kewajiban Penyidikan Pandemiologi dan Laporan Kasus Masalah Ginjal Kronis Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) Pada Anak yang ditandatangani oleh Plt. Direktur Jenderal Servis Kesehatan Murti Utami pada Selasa (18/10).
Hal tersebut susul penemuan kasus masalah ginjal kronis progresif atipikal di Indonesia. Per Jumat (21/10) jumlah penemuan penyakit misteri di Indonesia ini capai 241 orang dengan tingkat kematian kasus ini capai 55 %.
Sebagian besar pasien datang dari kelompok anak-anak, dengan pasien terbanyak bayi di bawah 5 tahun (balita). Rinciannya, anak umur kurang dari satu tahun sekitar 26 kasus, balita 153 kasus. Lantas 37 anak berumur 6-10 tahun, dan 25 anak berumur 11-18 tahun.
Dari 241 kasus itu, rinciannya 133 orang dipastikan wafat. Selanjutnya 69 orang masih juga dalam tahapan penyembuhan, dan 39 pasien yang lain dipastikan sudah pulih. Kasus verifikasi dan kematian terbanyak diketemukan di DKI Jakarta.
BPOM pastikan 133 obat sirop tidak memakai empat pelarut
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito menjelaskan jika sekitar 133 obat sirop yang tercatat di BPOM sudah ditegaskan tidak memakai pelarut propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan/atau gliserin/gliserol.
"Dari 133 sirop obat yang tercatat di Badan POM tidak memakai empat pelarut itu yakni propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan/atau gliserin/gliserol hingga aman sejauh dipakai sama sesuai ketentuan gunakan," ucapnya dalam pertemuan jurnalis di Jakarta, Ahad (23/10) 2022.
Faksinya lakukan pencarian data register pada 102 obat sirop yang masuk daftar Kementerian Kesehatan berkaitan pasien masalah ginjal kronis progresif atipikal (acute kidney injury/AKI).
Hasilnya, 23 obat ditegaskan tidak memakai ke-4 pelarut itu hingga aman dipakai sejauh sesuai ketentuan penggunaan.
Tujuh produk sudah dilaksanakan pengetesan dan dipastikan aman dipakai sejauh sesuai ketentuan gunakan.
Sementara, tiga produk sudah dites dan dipastikan memiliki kandungan cemaran etilen glikol (EG)dan dietilen glikol (DEG) melewati tingkat batasan aman. Ke-3 nya terhitung dalam lima produk yang sudah dipublikasikan awalnya oleh BPOM.
"S/d sekarang ini masih tetap ada 69 kembali produk masih juga dalam proses sample dan pengetesan. Secepat-cepatnya kami akan keluarkan dengan bertahap," terang Penny.
Dalam peluang itu, dia menjelaskan penemuan BPOM berkaitan pelarut itu tak berarti sebagai ringkasan jika ke-4 kandungan itu mempunyai hubungan dengan penyakit masalah ginjal.
"Hasil tes cemaran EG dan DEG ini tidak berarti menjelaskan atau memberikan dukungan ringkasan jika pemakaian sirop obat itu mempunyai keterikatan karena karena dengan peristiwa masalah ginjal kronis pada anak," begitu Penny K Lukito.

Posting Komentar