Udara sejuk demikian berasa saat masuk teritori rekreasi pemandian Pucok Krueng. Gemercik bunyi air dan sahutan suara burung membuat pemikiran semakin tenang dan nyaman saat anda datang pada tempat ini.
Beberapa pungunjung terlihat demikian nikmati dinginnya air yang mengucur dari celah-celah batu pada saluran sungai itu. Melepaskan capek menjadi satu diantara argumen berkunjung tempat rekreasi yang termasuk alami ini.
Berada di Gampong Alue Seulaseh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), tujuan ini cuma memerlukan waktu sekitaran 10-15 menit bila dijangkau dari pusat Kota Blangpidie.
Pucok Krueng, demikian masyarakat di tempat mengatakan. Disebutkan Pucok Krueng, karena lokasi rekreasi ini ada di hilir sungai Dusun Alue Sungai Pinang, atau ada di sisi kaki bukit barisan.
Setiap hari, pemandian Pucok Krueng ini ramai dikunjungi beberapa pengunjung, baik pungunjung lokal atau di luar Abdya. Ditambah hari liburan atau peristiwa hari besar yang lain tujuan ini akan jadi lebih ramai dari beberapa hari biasa.
Pada tempat ini pelancong dapat nikmati sajian ekosistem yang alami. Formasi batu besar dan dinginnya air yang mengucur di sejauh sungai ini membuat pengunjung terasanya merendam di air es.
Keadaan air yang semacam ini, dikuasai oleh rindangnya pohon-pohonan besar dan jumlahnya batu-batuan besar yang ada di sekitaran saluran sungai.
Tidak cuma nikmati kesan sungai yang jernih dan dingin. Dari tempat ini, pengunjung bisa juga melihat proses panen buah pala yang sudah dilakukan oleh petani di tempat.
Karena keadaannya yang asri, pengunjung yang akan kesini dapat bawa perbekalan dari rumah atau pesan bermacam makanan yang ada di pondok-pondok punya masyarakat yang ada di sekitaran lokasi pemandian.
BACA JUGA: Pantai Jilbab Kabupaten Aceh Barat Daya
"Umumnya, pengunjung yang tiba ke arah tempat ini sebagai kelompok yang lakukan aktivitas masak bersama, seperti bakar-bakar ayam, masak mie dan lain-lain," kata Rizal, salah seorang masyarakat di tempat ke readers.ID, Selasa (17/5/2021).
Nikmati sajian sekalian merendam 1/2 tubuh menjadi satu diantara hal yang umum dilaksanakan beberapa pengunjung di tempat rekreasi ini.
Acut misalkan, salah satunya pengunjung yang nikmati kesejukan tujuan rekreasi ini akui benar-benar nyaman dan tenang dengan situasi yang terhidang pada tempat ini.
"Tempat rekreasi ini sebagai tempat rekreasi yang paling nyaman menurut saya, karena selainnya situasinya yang nyaman airnya yang dingin," ucapnya.
Tidak perlu mengambil kantong serupiahpun untuk rasakan sejuknya air dari pegunungan Pucok Krueng itu. Namun, untuk kenyamanan bersama beberapa pengunjung harus tetap mematuhi etika-etika syariat Islam yang berjalan.
Sekarang ini, akses ke arah lokasi pemandian sangat gampang, dapat dilakukan langsung dengan kendaraan beroda 2 atau beroda 4.
Ingin tahu akan kesejukan dan keelokan yang dihidangkan tujuan rekreasi pemandian Pucok Krueng ini ? Silahkan bertandang ke Abdya.
Aceh Barat Daya (Abdya) mempunyai luas 1.490,60 km dengan keseluruhan komunitas 148.687 jiwa. Kabupaten ini populer dengan padi Sigupai (pade Sigupai)-nya, termasuk juga kabupaten pemroduksi pala paling besar di Aceh.
Abdya banyak memiliki tempat rekreasi yang telah populer, bukan hanya dikenali dalam negeri, bahkan ke luar negeri. Satu diantaranya adalah "Pucok Krueng" yang berada di Gampong Alue Seulaseh, Kecamatan Jeumpa, Abdya.
Kegiatan rutin warga di situ ialah bercocok tanam nilam, kunyit, pinang, dan yang terbanyak ialah pala. Kebun pala benar-benar terang kelihatan di sejauh jalan ke arah tempat tempat wisata yang disanggupi jejeran pohon pala punya masyarakat di tempat.
Tempat wisata Pucok Krueng ini sebagai tempat rekreasi pemandian yang terletak sangat vital, yaitu di tengah lembah pegunungan yang paling hijau dan fresh. Di bawah kaki pegunungan ini air mengucur ikuti jalur lembah. Airnya benar-benar sejuk karena di sejauh sungai ada pohon-pohonan yang paling rimbun menaungi sungai dari pancaran cahaya mentari.
Airnya benar-benar jernih, bahkan juga kita bisa meminum langsung hingga dahaga kita terobati. Di sejauh sungai ada batu-batuan yang berjejer dari ukuran besar sampai kecil sebagai nilai lebih keelokan untuk sungai itu. Bila kita tiba ke lokasi ini mata kita bukan hanya dimanja oleh saluran sungai yang sejuk dan jernih, tapi kita dapat nikmati dan rasakan keelokan pegunungan hijau yang berjejer cantik. Benar-benar benar-benar menganakemaskan mata.
Daya tarik tempat wisata Pucok Krueng Alue Seulaseh sangat mempesona. Faktanya, bukan hanya disukai oleh warga lokal saja, umumnya pengunjung tiba dari wilayah tetangga, seperti Aceh Selatan, Nagan Raya, Aceh Barat, dan wilayah yang lain. Bahkan juga kerap wisatawan asing turut berekreasi ke arah tempat eksotis ini.
Tempat wisata Pucok Krueng pas untuk kelompok anak-anak, karena debet airnya benar-benar memberikan dukungan, tidak terlampau deras dan tidak dalam. Sungainya juga jauh dari kata terkontaminasi dan terpolusi. Alamnya benar-benar terasa sangat natural serta permai.
Menariknya kembali, akses jalan ke arah Pucok Krueng sangat gampang dicapai. Kita bisa memarkirkan kendaraan langsung di lokasi rekreasi Pucok Krueng, kita tidak diambil retribusi rekreasi alias serbagratis saat nikmati keelokan daya tarik alamnya.
Warga di tempat juga menghargai beberapa pengunjung, kita cuma disuruh selalu untuk jaga keteraturan, santun sopan, dan kebersihan tempat wisata untuk bungkuslahan kita bersama.
Pucok Krueng ini mempunyai riwayat tertentu yang warga di tempat yakini kebenarannya. Kabarnya pada jaman dulu ada seorang pria alim namanya Teungku Malem Diwa. Dia hidup dalam suatu dusun yang cantik dan permai di bawah kaki pegunungan. Beliau benar-benar populer kealimannya. Menjadi kelaziman di wilayah barat selatan Aceh umumnya binatang runduk ke beberapa orang alim. Begitu halnya Malem Diwa. Beliau mempunyai kupu-kupu, rayap, elang, dan tupai dengan bulu kuning.
BACA JUGA: Pantai Cemara Indah Kabupaten Aceh Singkil
Malem Diwa mempunyai seorang istri namanya Putroe Bungsu. Istrinya ini sebagai salah satunya dari 7 putri kahyangan. Saat sebelum mereka menikah Putroe Bungsu hidup di kahyangan, dan Malem Diwa tinggal di bumi.
Saat sebelum menikah, Malem Diwa tiap hari selalu pergi mengelana dari 1 wilayah ke wilayah yang lain. Sebagai penyembuh rasa sepi saat sedang dalam pengembaraan dia selalu didampingi oleh sebuah seruling yang bernada merdu.
Satu saat Malem Diwa datang pada sebuah wilayah yang berada di dekat sungai. Dia tertarik dan memilih untuk tinggal pada tempat itu. Di sanalah dia bertani, beternak, dan memancing. Di suatu hari saat sedang memancing, Malem Diwa berjumpa seorang nenek yang barusan usai cari kayu bakar di rimba. Karena sikap nenek itu benar-benar santun, karena itu Malem Diwa menolong membawa kayu bakar sampai ke rumah sang nenek. Karena kerap berjumpa dan menolong sang nenek Malem Diwa telah memandang nenek itu jadi orang tuanya sendiri.
Sesudah beberapa saat selanjutnya saat Malem Diwa sedang memancing mendadak kedengar gelak tawa beberapa wanita. Karena ingin tahu, Malem Diwa juga cari tahu dari suara itu. Dari balik pohon dia menyaksikan tujuh bidadari elok sedang main di atas batu besar di sungai. Rupanya bidadari itu tidak sekali hanya itu bermain di situ. Mereka berulang-kali turun dari kahyangan untuk mandi dan bermain bersama di sungai bening dan sejuk itu.
Malem Diwa selalu menunggu kehadiran mereka walaupun masih tetap sembunyi. Satu hari saat mereka sedang mandi, Malem Diwa ambil secara random selendang salah satunya pada mereka dan sembunyikannya di dalam rumah.
Sesudah usai mandi terjadi kerusuhan karena lenyapnya salah satunya selendang dari ke-7 bidadari itu, dan yang lenyap itu ialah selendang punya bidadari yang paling bungsu. Lumayan lama beberapa bidadari yang lain coba menolong menemukan pakaian itu, tetapi tidak diketemukan. Pada akhirnya, dengan berat hati bidadari itu kembali lagi ke kahyangan dan tinggalkan bidadari yang kehilangan selendangnya.
Bidadari yang ditinggalkan juga menangis di pinggir sungai. Sesudah sembunyikan selendang punya bidadari itu Malem Diwa kembali lagi ke sungai dan tawarkan bantuan. Dia pasarkan supaya bidadari itu bisa bermalam di dalam rumah ibu angkatnya yang tinggal tidak jauh dari rumah Malem Diwa. Semenjak itu mereka bersahabat baik. Selanjutnya, karena tertarik Malem Diwa juga jatuh hati, pada akhirnya Malem Diwa menyuntingnya untuk jadi istri.
Tetapi, si putri memberi syarat ke Malem Diwa saat sebelum menikah dengannya, yakni ambilkan 3 buah pinang. Pinang ini bukanlah pinang biasa, pohonnya cuma mempunyai satu batang, tetapi mempunyai 3 buah yang berjuntai. Tiap buahnya itu terdiri dari emas, perak, dan intan.
Kabarnya, tidak ada seorang juga yang sanggup ambil buahnya, ingat pohonnya sangat tinggi dan dijaga oleh hewan yang berbisa seperti ular, saat jengking, dan kelabang.
Malem Diwa tidak mampu menuai buah itu, lalu dia meminta dana untuk binatang-binatang untuk menolongnya. Malem Diwa minta rayap untuk membikinkan bangku untuk tempat duduknya. Selanjutnya dia minta elang untuk mengusung bangku yang ditempatinya dengan tinggi tengah tangkai pinang saja. Dia minta tupainya menuai 3 buah pinang itu. Singkat kata, tupai itu sukses menuai buah pinang dan memberikannya ke Malem Diwa. Pohon pinang itu juga roboh dan tempat jatuhnya membuat saluran sungai yang saat ini disebutkan "Pucok Krueng". Ujung pohonnya jatuh ke sebuah pulau yang saat ini disebutkan Ujung Serangga. Malem Diwa juga menikah dengan si putri dan hidup berbahagia. Ya, demikianlah legendanya. Pembaca bisa yakin, bisa tidak.




Posting Komentar